Aturan Pertama Yang Disahkan Jonan Sebagai Menteri ESDM

Sejak diangkat menjadi Menteri ESDM pada 14 Oktober 2016 lalu, peraturan pertama yang dibuat Ignasius Jonan adalah membuatkan payung hukum dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen) ESDM. Hal ini dilakukan agar PT Pertamina (Persero) bisa mulai berinvestasi di Blok Mahakam pada 2017. Adapun kontrak Total E&P Indonesie dan Inpex di Mahakam akan berakhir di 2018.

Langkah ini dilakukan, dalam rangka menjaga tingkat produksi di blok penghasil gas terbesar Indonesia itu. Produksi gas Blok Mahakam saat ini mencapai 1.740 MMSCFD dan 69.186 barel minyak per hari (bph). Tapi Permen ESDM pertama yang dibuat Jonan ini tidak berlaku khusus untuk Pertamina di Mahakam saja. Semua kontraktor yang sedang dalam proses alih kelola blok migas dapat menggunakannya.

Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, saat ditemui usai jumpa pers di Kementerian ESDM, Selasa (25/10/2016) malam, menjelaskan bahwa ada Permen yang direvisi untuk mengatur masa transisi. Sehingga saat alih kelola, ada payung hukum yang menjamin kontraktor untuk berinvestasi sebelom masa kontrak existing contractor berakhir. Namun, investasi yang dapat dilakukan hanya sebatas investasi dana saja. Pengerjaan tetap dilakukan oleh existing contractor.

Normalnya, kontraktor baru bisa investasi pada saat sudah menjadi operator. Tapi dengan ketentuan baru dari Menteri ESDM, Ignasius Jonan, misalnya dalam kasus Pertamina di Mahakam, mereka bisa berinvestasi dalam rangka menjaga tingkat produksi. Sebab, Total dan Inpex tidak akan banyak berinvestasi tahun depan. Kalau tidak ada investasi untuk pengeboran sumur-sumur baru, produksi Mahakam pasti akan menurun di 2018.

Pertamina pun dapat mengklaim pengeluaran tersebut sebagai cost recovery (biaya operasi untuk kegiatan produksi migas) yang harus diganti negara. Tanpa adanya Permen ESDM ini, Pertamina tak bisa mengklaim investasi yang dikeluarkannya pada 2017 sebagai cost recovery pada tahun berikutnya.

Berkat Permen ESDM pertama Jonan ini pula, amandemen Production Sharing Contract (PSC) alias kontrak bagi hasil Blok Mahakam yang memuat ketentuan baru soal masa transisi dapat ditandatangani oleh Pertamina dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Rencananya, Pertamina akan menggelontorkan dana sebesar US$ 180 juta atau setara dengan Rp 2,34 triliun untuk pengeboran 19 sumur di Blok Mahakam tahun 2017. Tapi Pertamina hanya mengeluarkan dana saja, pengeboran dilakukan oleh Total. Diharapkan tingkat penurunan produksi (decline) Blok Mahakam pada 2018 bisa ditahan menjadi hanya 12-18% saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *